SEGENGGAM CINTA DALAM HATI
Sepasang mata masih asyik menatap dan memperhatikan gerak – gerik mulut ketua jurnalis yang tengah memberikan pengarahan mengenai program kerja dan kegiatan yang terdapat pada eskul Karya Ilmiah Remaja (KIR), cara bicara ketua jurnalis itu sangat menarik banyak perhatian para anggotanya, jangankan oleh anggota junior yang baru pertama kali masuk eskul tersebut, anggota yang senior pun masih memperhatikan setiap gerak-gerik saat dia bicara bahkan setiap tingkah laku sehari-hari secara diam-diam.“ baik. Kawan – kawan pertemuan pertama ini kita cukupkan sekian, terimakasih atas perhatiannya …” kata-kata ketua eskul itu mengakhiri pembicaraannya sore itu. Ia berjalan keluar di iringi langkah-langkah perempuan yang berebutan untuk bisa berkomunikasi langsung dengan Aditya ketua eskul yang cool abiz di banding teman sekelas lainnya.Sementara pemilik sepasang mata itu masih merapihkan buku-bukunya dengan senyum-senyum sendiri tanpa alasan yang jelas. ia masih berada di ruang rapat hingga tak ada satu orangpun yang tersisa.
“ I wish you were here….” Suara nada dering berbunyi di ruangan rapat yangsunyi itu, alisya kebingungan darimana asal suara tersebut.
“handphone siapa ini …” tanyanya dalam hati dimambilnya handphone yang tengah bordering tepat di depan kursi tempat adityia duduk. Dilihatnya panggilan masuk bernama andre ditekannya tombol hijau.
“siapa ini ?” suara dari seberang sana Nampak emosi. Alisya mengerti mungkin mereka berasumsi bahwa hp itu di curi atau mungkin jatuh di jalan dan di temukan oleh orang lain yang salah.
“ini alisya, hp anda tertinggal di ruang rapat…” jawabnya dengan segera menutup telepon.
Perkenalan pertama mengenal nama namun tak mengetahui wajah, karena ketika Aditya tengah mengambil hpnya ternyata gadis yang bernama alisya itu telah pergi dari tempat itu, Aditya tak memperdulikannya karena dalam benaknya hanya kekhawatiran pada hpnya itu, karena di kontaknya terdapat orang-orang yang menurutnya penting. Ia berfikir gadis yang menemukan hpnya sama dengan gadis-gadis lain yang suatu saat nanti akan datang menemuinya dan memperkenalkan dirinya sendiri tanpa di minta sekalipun.
Seminggu berlalu. Alisya menjadi salah satu anggota KIR yang kreatif, ia banyak menghasilkan cerpen ataupun puisi yang di terbitkan di sekolahnya, berkat prestasinya itu ia sangat banyak di kenal oleh teman-teman dalam eskul KIR termasuk oleh Aditya.
“alisya kapan deadline lomba menulis cerpen itu?” Tanya gea yang tengahmenempelkan kertas di mading sekolahnya .“kurang tau juga ge, aku belum buka webnya lagi …!”
“kenapa kamu gak coba minta bimbingan ka Aditya, diakan jago banget bikin cerpen, novel, dan puisi kaya gitu …”
“iya, justru itu, kemarinkan kita di wajibkan untuk membuat cerpen setiap minggunya, nah ajang itu aku manfaatkan, kalau misalkan cerpenku di terbitkan di sekolahkan berarti itu layak buat di kirim ,,,”
***“
salam… alisya ingat ya, sekarang sudah akhir minggu, cerpennya segera serahkan kepada saya …” alisya mengernyitkan keningnya, sms tiba-tiba muncul di layar hp samsungnya tanpa basa-basi dan mengenalkan dirinya terlebih dahulu.
“maaf, siapa ini …” balasan sms segera meluncur ke number baru di ponselnya itu.
“perkenalkan nama saya Aditya firmansyah ketua eskul Karya Ilmiah Remaja ”
“what, gak salah,” alisya tak percaya, laki-laki yang di kenal dingin dan sombong di kalangan perempuan, justru menghubunginya lewat sms, ia mencoba menetralisir gejolak perasaannya yang tak biasa itu, ia memang merupakan salah satu fans berat ketua jurnalis tersebut bahkan mungkin hatinya telah berlabuh dan tunduk pada laki-laki itu ,namun ia merasa minder akan keadaan fisik dan kualitas dirinya yang tak sempurna sehingga ia hanya bisa diam dan memperhatikannya dari kejauhan.
***“
lisya, aku kemarin udah konfirmasi sama kak Aditya, setiap sore aku belajar jurnalis sama kak Aditya ,,” gea sahabat alisya bercerita mengenai Aditya, laki-laki yang sama–sama mereka sukai, gea Nampak bahagia. Aliysa hanya tersenyum kecut, hatinya cemburu, meski begitu ia mencoba menyembunyikan rasa cemburunya, ia mulai menyurutkan niatnya untuk kenal lebih dekat dengan Aditya. Jelas usahanya akan sia-sia jika dia harus bersaing dengan gea yang memang lebih ferpect dan banyak di sukai oleh banyak pria dan tidak menutup kemungkinan jika adityapun akan jatuh hati pada gea secepat kilat.di bandingkan dengannya, meski otaknya tak jenius namun gea mempunyaiparas dan tubuh yang di atas standar.
“tuhan.. jika dia bukan jodohku, ya allah pudarkanlah keindahan wajahnya dari pandanganku, aku tak ingin mencintai orang yang salah sungguh … walaupun melupakannya sangat menyakitkan aku berusaha untuk sanggup…” rintihnya dalam hati dengan terus berjalan menelusuri koridor sekolah menuju ruang rapat, ia bertugas untuk memasang dan mencopot mading sekolah setiap harinya.
“alisya… ” panggil laki-laki berjas coklat tua itu. Mengagetkan alisya yang tengah memilih dan memilah karya anak-anak KIR.
“iya ka Aditya,, ” jawabnya singkat dengan terus menundukan pandangannya,
“kamu teman dekatnya gea ya,boleh saya minta no hp nya …?”
“boleh ,,, ” jawabnya dingin.
“saya dengar dia mantan model di smp nya dulu ya,, memang dia cantik,pintar juga ,,,”Alisya terdiam mnedengar kata-kata pujian yang di lontarkan oleh pujaannya itu. Sakit hatinya. Ia merasa yaqin kalau Aditya telah mempunyai perasaan yang luar biasa pada gea.
“alisya kenapa kok diam terus ?”“diam bagaimana kak, memang sudah biasa saya diam …”
“nggak, seperti ada yang beda ,,,”
“tidak ka, tidak ada apa-apa … permisi…” jawabnya singkat dan bergegas melangkah meninggalkan Aditya, ia sedikit heran kenapa Aditya berkata seperti itu.“apa mungkin laki-laki secool itu memperhatikan saya, jika tidak mengapa dia berkata seperti itu ” hatinya terus bertanya-tanya, ia sedikit merasa gr atas perhatian dari Aditya,ia terus melangkah meninggalkan ruang rapat. Dan langkahnya terhenti tepat di toilet sekolah. Ia mencoba menangkan perasaannya. Perasaannya tidak karuan satu sisi dia merasa sangat cemburu pada sahabatnya itu sehingga dalam benaknya tertanam rasa iri yang membuat emosinya tak terkontrol, namun di sisi lain gea adalah sahabatnya sendiri yang tak mungkin jika ia harus menjauhinya, karena hubungannya sudah begitu dekat.
@@@
“baik kawan-kawan mengenai lomba cerpen yang akan kita adakan lusa, maka sejak dini kita harus mempersiapkannya. saya harap semua anggota eskul ini berperan aktif demi suksesnya acara ini.” Adittya memberikan sambutan ketika rapat eskul KIR itu berlangsung.
“baik kak. Kami sangat siap sekali untuk ikut berperan aktif dalam acara ini, dan saya harap kak Aditya sebagai ketua untuk menyusun organisasi dan tugas-tugasnya supaya acara ini berjalan secara efektif ” usul gadis berwajah oval bernama bella, ia adalah salah satu senior.
“ baik,, terimakasih usulan yang sangat bagus, namun untuk pembagian tugas sepenuhnya saya serahkan pada angga sebagai ketua panitia,, dan alisya sebagai wakil ketua, hari ini kamu ikut saya, kita akan menemui redaktur majalah untuk mengadakan kerjasama dengan sekolah kita .” tegas Aditya. Sebelum mengakhiri rapat.
***
Aditya dan alisya bergegas menuju tempat yang di tuju, alisya sebagai siswi yang berprestasi di bidang jurnalis dengan karya-karyanya yang telah menghasilkan banyak penghargaan membat redaktur menyetujui kerjasama yang di tawarkan tanpa piker panjang, dengan syarat semua karya yang akan dikirimkan ke redaktrur harus sempurna supaya bisa menghasilkan karya yang luar biasa sesuai dengan prestasi yang telah di dapatkan alisya.
Sore itu Aditya Nampak sibuk mengedit cerpen-cerpen anak-anak KIR.
“akhir pekan yang melelahkan …” keluhnya dalam hati.
“lisya …” panggilnya ketika melihat alisya yang tengah merapihkan kertas-kertas di ruang rapat,
“iya,ada apa ka ”
“kamu lagi sibuk pekan ini ?”Ia berpikir sejenak,
“akhir pekan ,,, apa Aditya mau mengajaknya kencan ,,, sebenarnya sibuk sie besok deadlinenya lomba cerpen nanti malam harus edit-edit, tapi sayang juga kalau di abaikan” kata-kata hatinya,ia mulai ke-gr-an, dengan senyum-senyum sendiri.
“alisya…” panggilnya lagi mengagetkan alisya dari lamunannya.
“eh iya ka, kebetulan lagi santai aja …” jawabnya spontan
“bagus…” ia menghampiri gadis berjilbab putih itu.
“di file ini ada cerpen milik anak-anak. Kamu bisa edit cerpen-cerpen ini kan ?” tawarnya. Aditya terdiam“edit cerpen anak-anak KIR,,,” pikirnya kesal.
“kebetulan malam ini saya harus bertemu orang penting, sedangkan cerpen-cerpen ini harus selesai dan di storkan kepada kepala sekolah besok pagi” keluhmya dengan kembali duduk di kursinya.
“oke… boleh ka…” jawabnya terpaksa, karena terlanjur menjawab tidak ada kesibukan pekan ini.
“sip,kamu pakai laptop saya saja ya … ” ucapnya girang. Alisya menghampiri Aditya , ia mencari-cari file yang di tunjukannya barusan.
“sebelah sini … ” tangannga meraih mouse yang tengah di pegang alisya.
“maaf …” ucapnya pelan ketika alisya menoleh ke arahnya dengan raut wajah yang sedikit tidak enak.
“ba baik, aku pulang duluan ya ,,,” pamitnya dengan meraih tasnya dan bergegas melangkah keluar.Alisya heran kenapa Aditya tiba-tiba gugup . ia melirik ke arah pintu keluar ingin ia melihat Aditya hingga pergi jauh meninggalkan ruang rapat.
“tuhan. Istiqamahkanlah keadaan seperti ini …” rintihnya dalam hati, mengingat setiap ia bertemu dengan Aditya pasti suasana berubah seperti di kutub utara, diam,diam dan diam. Suasana itu sangat tidak ia harapkan, namun ketika bertemu dengan Aditya, mulutnya seperti terkunci . untuk tersenyum pun Nampak berat sekali. Dan hari ini ia merasa sangat bahagia ketika bisa berkomunikasi dengan Aditya meski hanya beberapa kata.
***
“ge, mau kemana dandan segala …”
“ada deh, rahasia …” ucapnya
“tittt tiiiiiiit” terdengar suara klakson motor di depan rumah gea
.“saya aku berangkat dulu ya, jagain rumah aku ya sayang ….” Ucapnya dengan segara keluar rumah. Alisya sangat penasaran mau kemana sahabatnya itu sehinnga ia menyuruhnya untuk menjaga rumahnya, tidak biasanya gea jalan-jalan sampai malam. Ia pun membuka jendela kamar dan mencoba meneliti laki-laki yang membawa motor berjaket kulit hitam itu.
“hah … kok kaya …” tebaknya dalam hati. Ketika melihat sekilas laki-laki yang menjemput gea. Ia berjalan menuju ruang tamu. Ia begitu penasaran, berharap pandangan pertamanya tadi salah. Di bukanya membuka gardeng yang menghalangi kaca jendela tersebut. Dengan harap-harap cemas ia menatap ke arah laki-laki dan gea yang tengah berbincang-bincang. Pandangannya semakin jelas dan yaqin ketika laki-laki itu turun sejenak dari motornya untuk menambil tas gea yang tiba-tiba jatuh. Padangannya tak lagi salah, semakin jelas tanpa harus melihat lebih dekat lagi. Pandangannya sedikit buyar karena bendungan air mata tiba-tiba memenuhi mata bulatnya. Merasa tak percaya dengan semua yang di lihatnya, ia menutup matanya berharap semua yang di lihatnya saat itu hanya sebuah mimpi. Ia mencoba membuka matanya perlahan-lahan, terdengar suara gerungan mesin di nyalakan. Di tatapnya lagi lekat-lekat wajah keduanya.
“ini nyata …” rintihnya. Di lihatnya tangan gea melingkari tubuh laki-laki itu, keduanya Nampak bahagia motor pun melaju cepat menghilang dari pandangannya meninggalkan air mata. Di tutupnya gardeng jendela.
“apa arti dari semua ini. Jadi orang penting yang kak Aditya maksud adalah gea… ” hatinya tersentak, hatinya mulai tak karuan, di sandarkan kepalanya pada pintu kamarnya. Ingin sepertinya ia berteriak sekeras-kerasnya, meluapkan semua rasa sakit hatinya, amarahnya dan kekesalannya. Ingin dia pecahkan cermin yang tepat ada di hadapannya, inginn ia lempar laptop milik Aditya yang di berikan kepadanya tadi sore. Namun segera ia sadarkan diri, menenangkan pikirinnya, mencoba sadar bahwa Aditya bukan siapa-siapa dia, ia tak pantas harus menangisi kejadian yang baru disaksikannya, apalagi harus membenci keduanya. Ia bergegas menuju kamar mandi untuk mengambil air wudhu berharap mendapatkan suasana yang lebih tenang. Di raihnya laptop milik Aditya, dan mulai mengerjakan tugas yang di berikan Aditya, meski sesekali dia meneteskan air mata setiap kali ingat kemesraan yang di lihatnya tadi.
@@@
“ alisya. Kamu bisa ikut saya hari ini …” ajak Aditya ketika alisya memberikan laptopnya. “ maaf ka saya sibuk …” tolaknya tegas dengan terus berjalan meninggalkan Aditya.
“Alisya. Saya antar kamu pulang ya” pintanya dengan menahan tangan alisya.
“ saya masih ada acara, hari ini saya harus mengirimkan naskah saya, jadi saya tidak ada waktu untuk bicara dengan anda …” jawabnya dngan berusaha melepaskan tangannya.
“ oke, aku antar kamu kesana ya …”
“saya bisa sendiri …” ia bergegas meninggalkan Aditya yang masih berdiri memohon agar keinginannya terkabulkan.
***
“ sulit memahami cinta, saat cinta tiada menjawab, hati terus berharap namun ketika cinta datang menghampiri dan mengulurkan tangannya, ia pun pergi menjauh …”Aditya memberikan kertas yang di genggamnya.
“ memang. Karya anak-anak KIR sangat luar biasa …” tambahnya dan berjalan keluar dari ruang rapat.alisya membaca kertas yang di genggam Aditya. Namun ia tak menemukan kata-kata yang di utarakan Aditya.
^^^
“ gea sayang, kenapa sie sampai sakit gini, makanya jangan pulang malam-malam … ngeyel si …” alisya mencoba menghibur gea yang tengah demam.
“lisya makasih ya, ” kata gea terbata-bata,
“ iya ge, makan dulu ya …” bujuk alisya, gea sudah 3 hari tidak masuk sekolah karena demam, ia pun tak pernah makan ataupun minum obat. Sering gea mengatakan bahwa yang sakit bukan badannya tapi hatinya, namun ia tidak menyatakan penyebabnya.
“ lisya, kamu jangan pergi ya …” bujuk gea dengan menahan tangan alisya ketika hendak keluar kamar.
“ maaf, ge aku tetap harus pergi, ayahku pergi ke luar negeri dan menetap disana” ucapnya dengan tersenyum manis.
“ kenapa kamu mengijinkan ayahmu menikah lagi ,,,”
“apa boleh buat ge, aku gak bisa jadi putrinya sekaligus istrinya, memang sudah saatnya ayahku melepas masa dudanya …”
“kamu selesaikan dulu sekolahmu disini,,,” usulnya, alisya menatap erat-erat mata gea, “sebenarnya aku ingin begitu, namun aku tidak bisa harus menyaksikan peristiiwa yang serupa” keluhnya dalam hati. Ia pun menggelengkan kepalanya sebagai jawabannya. Ia tak mau kehilangan sahabatnya setelah aditya meninggalkannya malam itu, sehingga ia jatuh sakit seperti sekarang.
“ aku pergi dulu ya, hari ini ada rapat eskul KIR …” pamitnya dan berlalu pergi meninggalkan gea yang terbaring lemah di atas Kasur.
Rapat telah selesai ketika alisya datang, ada sedikit perubahan mengenai jadwal rapat hari ini Aditya memajukan jadwalnya lebih cepat satu jam. Hal ini membuat alisya sedikit emosi ketika ia melihat teman-teman keluar dari ruang rapat.
“ sebenarnya apa maksud anda, anda ingin saya keluar dari eskul ini …” sentak alisya ketika melihat Aditya yang tengah mengotak-atik laptopnya. Aditya kaget dan memandangi lekat-lekat mata alisya yang di penuhi bendungan air mata, ia sangat kecewa karena ia sebagai wakil ketua merasa tidak di anggap.
“ ada apa alisya, bukan aku yang ingin kamu keluar dari sini, tapi justru kamu sendiri yang akan keluar dari eskul ini …” jawabnya dengan menahan santai.
“ maksud anda apa, saya masih ada disini dan saya berhak untuk mengikuti setiap rapat …”
“ sekarang kamu masih ada disini, dan lusa kamu akan pergi dari sekolah ini sekaligus Negara ini, eskul ini bukan halte yang menerima orang datang mampir lalu pergi secepat itu …”. Alisya terdiam sejenak tak mengerti apa yang di ungkapkan Aditya.
“saya tidak mengerti yang anda bicarakan, dan anda harus tau saya pergi dari sini bukan karena kehendak sendiri, tapi karena ayah saya membutuhkan saya …” ucapnya tegas
“ lalu kamu kira aku tidak membutuhkan mu disini,,,” tangkasnya langsung, dia pergi dari hadapan alisya. Alisya terdiam mengingat-ingat kembali ucapan aditya yang terakhir.
***
“luar biasa Aditya. Semua karya yang kamu kirimkan kepada saya kemarin, semua layak di muat dan rencana kita untuk mengadakan kerjasama dengan majalah di kabulkan, semua karya siswa akan di terbitkan secara berkala. ” sms datang dari pak susilo kepala sekolahnya.
Aditya bergegas memakai jaket kulitnya, ia segera membawa motornya melaju begitu cepat. Aditya tidak memperdulikan kendaraan yang berlaju. Ia semakin menambah kecepatannya setelah melihat arlojinya menunjukan pukul 11.00 WIB. Ia berlari bagitu cepat ketika sampai di bandara, ia tak mau usahanya sia-sia
.“gea, alisya mana …” tanyanya dengan setengah ngos-ngosan. Ketika melihat gea tengah berjalan menuju keluar bandara
.“udah berangkat dit …”Aditya lemah, ia segera menuju keluar bandara dan menyaksikan pesawat garuda yang tengah meluncur hingga matanya tak lagi melihat pesawat itu, ia duduk di tepian bandara, di keluarkannya hp Samsung miliknya, di pencetnya number milik alisya berharap semuanya belum terlambat untuk di ungkapkan.
“number yang anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan silahkan hubungi beberapa saat lagi .”

Tidak ada komentar:
Posting Komentar