TANDA SERU (!)
Jarum
jam telah menunjukan jam 11.00
WIB, nayla masih terus
berlari mengelilingi lapangan sepakbola gelora bung
karno (GBK), dengan
terus mengusap keringat yang terus
bercucuran dari seluruh
wajahnya, seorang gadis berkacamata
bulat itu berhenti dan mengulurkan kakinya
.“
ceritanya jadi diet dengan
alami
ya nay …?” goda seorang gadis bertubuh mungil seperti Barbie pada
nayla.
“
iya daripada melakukan cara yang instan tapi
banyak efek sampingnya, lebih baik kaya gini, selain diet juga menyehatkan …” jawab gadis berkacamata bulat itu di lanjutkan dengan meneguk
air putih yang di
berikan oleh clara sahabatnya
yang sedari pagi menemaninya di lapangan.
“
iya, tapi di
bantu dengan obat
juga khan…”
“
hehe iya sie,
kalau di padukan
kan juga saling
membantu…” jawabnya dengan cengesesan.
“sudah
jangan banyak bicara, lebih baik
kamu pikirkan kesalahan kamu sendiri megerti !!!” teriak seorang laki-laki berotot besar, pada
seorang
laki-laki kecil berseragam seperti seragam seorang supir, dengan posisi duduk di lutut
lelaki berotot sepertinya ia tengah meminta maaf pada bosnya (bisa
di bilang sperti itu) dan laki-laki besar itu memarahinya habis habisan seperti
orang yang tengah
memaki-maki hewan.
Mendengar
kalimat itu clara langsung berjalan keluar dengan cepat.
Nayla yang masih merasa lelah
terpaksa harus mengikuti sobatnya itu keluar
lapangan.
@@@
Jam menunjukan
pukul 06.30, namun suasana sekolah SMA 12 sudah ramai.
“sudah
sarapan?” Tanya nayla pada
clara yang tengah berjalan menuju kelas,
“belum
nie, tadi aku bangun kesiangan jangankan sarapan pamit aja nggak
…” keluh clara.
“
kasihan .. kebetulan kemarin papih aku datang
dari luar negeri
jadi sekarang aku dapet uang jajan lebih, aku traktir sarapan deh ….”
“
emm temen aku baik
banget si,, ya udah kita ke
kantin yuk …” ajak clara dengan semangat.
Clara
dan nayla duduk
di meja yang masih kosong setelah memesan sarapan.
“
wah mantap ni …” ucap clara setelah
pesanannya datang, begitupun dengan nayla.
“
bayar dulu hutang yang kemarin baru bisa berhutang
lagi, dasar tak tau
malu …!” kata ibu pemilik kantin itu dengan wajah penuh kekesalan
pada seorang gadis yang berpakaian kucel, memang kelihatannya
dia dari golongan yang kurang mampu.
Seperti biasa Tiba-tiba
clara menghentikan sarapannya dan bergegas melangkah keluar dari
kantin. Nayla masih kebingungan, namun, ia tetap
menghabiskan sarapannya sebelum bangkit menyusul clara.
“
kenapa ra ?” Tanya nayla setelah ia berada
di samping sahabatnya clara.
“
tidak apa-apa nay, kita lanjutkan tugas Bahasa
Indonesia yuk…” ajaknya dengan tersenyum manis.
Siang yang begitu panas, matahari berada di garis
khatulistiwa. Seorang gadis melihat arlojinya yang masih
menunjukan jam 12.00. dan kemudian melanjutkan aktivitasnya.
“
simpan kue ini di warung sebelah
” ucap seorang gadis berkacamata
bulat, gadis lain di sebelahnya
menulis setiap kalimat
yang di ucapkan
oleh gadis berkacamata itu.
“
terimakasih pak tanda seru
…” katanya lagi, gadis di sebelahnya berhenti menulis ketika temannya mengatakan “tanda seru”
“kenapa
tidak dilanjutkan ra?” Tanya nayla gadis berkacamata bulat. Ia
semakin heran dengan
tingkah laku sahabatnya yang
aneh akhir-akhir ini.
“aku
benci tanda seru
…” ujarnya singkat dan meletakkan
pena di atas
buku.
“kenapa kamu
membenci tanda seru,
memangnya dia berbuat
salah apa sama kamu
clara …?” Tanya nayla
dengan wajah polos dengan
penuh penasaran ia pun
mengernyitkan kening
pertanda ia begitu keheranan.
Clara
menghela nafas sejenak
lalu mulai mengeluarkan kata-kata dari mulut
tiipisnya
“
dulu aku sangat menyukai “tanda seru” bahkan dimana
ada tanda itu, semangatku kembali menggebu. Aku
teringat akan perkataan
para pejuang yang
memperjuangkan bangsa ini
hingga tetes darah
penghabisan, mereka tetap
bersemangat walaupun musuh
lebih kuat dari padanya,
mereka menggetarkan hati
ketika menyeru bangsa. ”
“
lalu, kenapa sekarang malah
sebaliknya …?” sambungnya ketika clara menghentikan ceritanya.
“dimanapun,
kapanpun, dan apapun
kalimat sebelumnya aku selalu
tersenyum ketika melihat ada tanda itu
di selipkan, karena tanda
itu menunjukan suatu ketegasan,
seperti orasi para pejuang
proklamasi dulu ketika
meneriakan kata “merdeka !!! ” dengan penuh semangat dan itu
diakhiri tanda seru, seperti
perkataan soedirman ketika
di beri kekuasaan
untuk menyerang sekutu
di ambarawa beliau
mengatakan biar dibom atom
sekalipun… kami pantang mundur untuk meraih kemenangan… MERDEKA…!” teriaknya dengan
mengangkat tangan sebelah
kanannya dengan penuh
semangat, sehingga menjadi perhatian
seisi kelas.
Nayla yang masih
menyimak dengan begitu serius cerita sohibnya
itu
dengan seketika latahnya
kembali kambuh.
“eh merdeka
merdeka … clara pelan-pelan
saja ” nayla mengingatkan.
“eh sorry,
namun, sekarang aku sudah sangat membenci
tanda itu, ketika tanda itu di ucapkan
sebagai bentuk ejekan
dan
pembudakan, Dan hal itu
sudah terbiasa dan membudaya di Indonesia sekarang ”
“
oh jadi karena itu
kamu sangat membenci
“tanda seru” ,,, ” ucap nayla mengerti
dengan mengangguk-anggukan kepalanya.
“iya
seperti itu …” jawabnya singkat
dan bergegas merapihkan
barang-barangnya.
“kenapa
kamu tumpahkan air es di buku ini? Dasar tolol!!!”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar